Lompat ke konten

Mengukur Arah Kiblat Secara Mandiri

Empat cara mengukur arah kiblat, dari yang paling sederhana hingga yang paling teliti, beserta kesalahan yang sering terjadi.

Pengantar 5 menit baca
Semua bacaan

Arah kiblat adalah arah terdekat menuju Ka'bah diukur pada permukaan bumi yang berbentuk bola. Karena itu, arah kiblat dari Indonesia bukan sekadar 'ke barat', melainkan condong ke barat laut — sekitar 292 hingga 295 derajat dari utara untuk sebagian besar wilayah Jawa.

1. Rasdul kiblat

Dua kali setahun matahari berada tepat di atas Ka'bah, yakni sekitar 27–28 Mei dan 15–16 Juli. Pada saat itu bayangan benda tegak di tempat yang sedang siang akan menunjuk lurus ke arah kiblat. Cara ini tidak memerlukan alat apa pun dan paling kecil peluang salahnya.

2. Perhitungan azimut

Azimut kiblat dihitung dari koordinat tempat dan koordinat Ka'bah dengan rumus segitiga bola. Hasilnya berupa sudut dari utara sejati. Cara ini teliti, tetapi menuntut penentuan arah utara yang benar di lapangan.

3. Bayangan matahari

Arah utara sejati dapat ditemukan dari bayangan terpendek sebuah tongkat tegak pada tengah hari. Dari garis utara itu, sudut azimut kiblat diukur searah jarum jam memakai busur derajat.

4. Teodolit

Pengukuran paling teliti memakai teodolit yang diikatkan pada posisi matahari atau titik acuan yang koordinatnya diketahui. Cara inilah yang dipakai petugas dalam layanan pengukuran resmi, dengan ketelitian hingga hitungan menit busur.

Kekeliruan yang sering terjadi

  • Memakai kompas biasa tanpa koreksi. Kompas menunjuk utara magnetik yang di Indonesia menyimpang sekitar 0–2 derajat dari utara sejati, dan mudah terganggu logam serta ponsel.
  • Mengira arah kiblat sama untuk seluruh Indonesia. Selisih antara Aceh dan Papua mencapai lebih dari sepuluh derajat.
  • Mengukur dari dinding bangunan yang dianggap sudah menghadap barat, padahal belum tentu tegak lurus terhadap arah mata angin.
  • Menyamakan arah saf dengan arah bangunan. Yang wajib menghadap kiblat adalah saf, dan saf boleh dibuat menyerong terhadap dinding.
Selisih satu derajat pada jarak 8.000 kilometer bergeser sekitar 140 kilometer di Mekah. Meskipun demikian, para ulama sepakat bahwa yang dituntut adalah menghadap ke arahnya, bukan ketepatan mutlak.

Bila hasil pengukuran mandiri masih meragukan, masjid dan musala dapat mengajukan pengukuran resmi kepada Kementerian Agama melalui layanan E-Kiblat. Petugas akan datang mengukur dan menerbitkan sertifikat arah kiblat.