Sebagian besar ibadah dalam Islam terikat pada waktu. Sholat lima waktu mengikuti kedudukan matahari, puasa Ramadan mengikuti pergantian bulan, dan haji terikat pada bulan Zulhijah. Karena itu, menentukan waktu bukan urusan sampingan, melainkan bagian dari sahnya ibadah itu sendiri.
Ada dua jalan yang dipakai untuk menetapkannya. Hisab adalah perhitungan kedudukan benda langit dengan kaidah astronomi. Rukyat adalah pengamatan langsung terhadap hilal — bulan sabit paling muda yang menandai pergantian bulan Hijriah. Keduanya sering dipertentangkan, padahal dalam praktik keduanya bekerja bersama.
Apa yang dikerjakan hisab
Hisab menghitung posisi matahari dan bulan pada waktu dan tempat tertentu. Dari perhitungan itu diperoleh jam terbit dan terbenam matahari, ketinggian hilal saat matahari terbenam, jarak sudut bulan dari matahari, serta lama hilal berada di atas ufuk. Angka-angka inilah yang menjadi dasar jadwal sholat dan taksiran awal bulan.
Perhitungan modern sudah sangat teliti. Kedudukan bulan dapat diketahui jauh hari sebelumnya dengan selisih yang sangat kecil. Karena itu jadwal sholat untuk setahun penuh dapat disusun lebih dahulu tanpa perlu diamati satu per satu.
Apa yang dikerjakan rukyat
Rukyat memastikan bahwa hilal benar-benar dapat dilihat. Perhitungan dapat menyatakan hilal sudah berada di atas ufuk, tetapi bila ketinggiannya terlalu rendah atau cahayanya tertutup senja, hilal tidak akan tampak oleh mata. Pengamatan menjawab pertanyaan yang tidak dijawab oleh angka: apakah hilal terlihat.
Di Indonesia, rukyat dilakukan di puluhan titik pengamatan yang tersebar dari Aceh hingga Papua, oleh petugas Kementerian Agama bersama ormas Islam, perguruan tinggi, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional. Laporan dari seluruh titik itu dibawa ke sidang isbat.
Bertemu di sidang isbat
Sidang isbat adalah forum resmi yang menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Di dalamnya, hasil hisab dipaparkan lebih dahulu sebagai gambaran posisi hilal, lalu laporan rukyat dari lapangan disampaikan. Keputusan diambil setelah keduanya dipertimbangkan bersama, sehingga berlaku satu penetapan untuk seluruh Indonesia.
Hisab memberi tahu ke mana harus melihat; rukyat memastikan apa yang terlihat. Keduanya bukan pilihan yang saling meniadakan, melainkan dua tahap dalam satu proses.
Perbedaan yang kadang muncul di masyarakat umumnya bukan karena salah satunya keliru, melainkan karena perbedaan kriteria: seberapa tinggi hilal harus berada agar dianggap sudah masuk bulan baru. Kriteria inilah yang terus disempurnakan melalui musyawarah, termasuk kesepakatan regional yang dianut Indonesia bersama negara serumpun.